Sejuta Prasangka Dibalik Berbaik Sangka

tumblr_static_candle-lantern-light-photography-snow-favim.com-280318

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un….

Telah berpulang ke rahmatullah tas saya beserta segala isinya termasuk dompet, handphone, kartu-kartu, headset, charger, Tupperware, botol minum lock & lock, catatan kajian dan sejumlah uang yang Cuma cukup untuk beli nasi goreng 2 porsi.

Baru saja kemarin sore saya membaca cerita tentang seorang mantan budak dan anaknya yang merindukan jihad di jalan-Nya dan berkat berbaik sangka yang menjadi permata hatinya, mereka pun syahid di jalan Allah dan meninggalkan kefanaan dunia dengan sebuah kemuliaan di mata Sang Pencipta.

Secepat inikah ya Allah ENGKAU menguji hamba-Mu yang memang sedang lemah iman ini? Secepat inikah ya Allah KAU menyatakan rindu-Mu pada permohonan demi permohonanku yang seringkali aku lupakan karena apa yang ENGKAU pinjamkan?

Antara bahagia dan malu hati di dada. Tak ada kata lain selain syukur alhamdulillah saya masih diberi peringatan untuk berbaik sangka di segala peristiwa. Saya berpikir ini hanya pinjaman saja, mungkin Sang Pemiliknya merasa saya belum cukup baik menjaga pinjaman tersebut sehingga Sang Pemiliknya meminta kembali barang pinjamannya.

Ya itu baik sangka saya, tapi…

Terkejut dan sesak di rasa, apa yang dialami sang mantan budak dan anaknya saya alami sendiri. Kali ini tak hanya barisan tulisan yang saya rasakan tapi kenyataan!

Apa mau dikata, agar ukhuwah tetap terjalin, sabar dan taqwa memang harus selalu menjadi pagar hati dan lisan. Sejuta prasangka pun bermunculan akibat tragedi tas hilang tersebut.

“wah kurang sedekah berarti”

Alhamdulillah ternyata ada yang memperhatikan sedekah saya, alhamdulillah sekali lagi saya diingatkan.

“duh orang Indonesia nih, udah barang hilang masih bilang untung”

Alhamdulillah ternyata saya punya teman seorang ahli ekonomi yang tau mana untung dan mana rugi.

Teringat kembali dengan kisah yang saya baca kemarin sore. Sang mantan budak dan anaknya saat itu kehilangan kuda kesayangan mereka. Kuda gagah dengan surai yang halus mempesona, dibeli dari tabungan mereka seumur hidup. Ketika kuda tersebut hilang dari kandang tanpa jejak, para tetangga pun bermunculan dengan sejuta prasangka dan iba mengasihani mereka yang kehilangan.

“Ah sayang sekali!”

“Padahal kuda itu kuda terindah yang pernah kami lihat. Kalian memang tidak beruntung”

Tapi tau kah kalian, mereka yang kehilangan itu memilih untuk tersenyum dan menjawab

“Kami tak tahu ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah”

Mereka memilih memasrahkan semua kepada Sang Pencipta Allah ‘Azza Wa Jalla. Mereka mencoban menghitung2 uang dan mengira-ngira kapan bisa membeli kuda impian untuk berjihad di jalan-Nya. Mereka kembali bekerja keras mengumpulkan sejumput rezeki demi ridha illahi.

Tiga hari kemudian, kandang kuda yang sebelumnya sepi kini riuh dan gaduh. Suara ringkik kuda mewarnai suasana Shubuh kala itu. Seketika terhiaslah senyum di bibir ayah dan anak yang sempat kehilangan. Kuda mereka kembali, dan tidak sendiri! Kuda yang tak pamit itu membawa teman-temannya yang tak kalah gagahnya.

Kembali para tetangga mengunjungi rumah ayah dan anak tersebut. Selamat dan puji-pujian terucap, rasa kagum mereka tak dapat lagi dibendung.

“luar biasa!”

“wah, kalian sekarang kaya raya!”

Tapi tau kah kalian, mereka yang berbahagia itu memilih untuk tersenyum dan menjawab

“Kami tak tahu ini rahmat atau musibah. Kami hanya berprasangka baik kepada Allah”

Belajar dari kisah sang mantan budak dan anaknya tersebut, mungkin inilah saatnya saya mengucapkan kalimat keramat mereka yakni  “Saya tak tahu ini rahmat atau musibah. Saya hanya berprasangka baik kepada Allah”

Bukan, bukan, bukan berarti saya berharap Allah membalas dengan yang lebih baik. Tapi rasa baik sangka yang menghiasi jiwa ini saja sudah cukup untuk saya. Biarlah peristiwa ini menjadi bahan muhasabah diri. Cukup dalam hati, takkan saya ucap kalimat keramat tersebut, saya tak ingin timbul prasangka lagi. Cukuplah para pembaca, saya dan Allah yang tahu.

-ns-

( فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِي * وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِي * كَلا بَل لا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ * وَلا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ * وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلا لَمًّا * وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا ) الفجر/15-20 .

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al Fajr: 15-20)

Standard